puisi-puisi
halaman ini khusus buat puisi-puisi..entah karya sendiri atau
karya orang lain (bakal ditulis siapa yang membuat kok)
————————————————————————————–
aku munafik!!
aku berbohong pada sekitarku
kukatakan aku tak apa
kuucapkan aku tak sedih
kutampakkan raut ceria
kutunjukkan ketegaranku
tapi…
hati ini perih
dada sesak menahan tangis
bibir kututup rapat tuk tahan teriakan sakit
aku menafikan kenyataan…
tentang keinginanku
tentang anganku
tentang impianku
agar kau memperhatikanku seutuhnya
namun aku sungguh munafik
pada diriku sendiri
ku cuci pikiranku…ku siksa hatiku
ku terus katakan pada jiwa yang terkoyak ini
bahwa aku senang..melihat dia..tersenyum dengan yang lain
-Saesa (Juni-08)-
————————————————————————————-
hujan
menjelang siang itu
dari balik tirai
ku tatap rumput hijau pepohonan
seakan damai tertebar ke relung jiwa ini
tak lama langit biru menjadi kelam
awan putih beranjak pergi
matahari entah kemana
dan titik titik air pun membasahi tanah
menebarkan bau bumi..
langit..apakah ini sindiran darimu?
mengapa kau menangis..
seharusnya aku yang menyucurkan air mata..
tangisan pedih karena cintaku beranjak pergi..
tetesan kesedihan atas nama hati yang terluka
-Saesa (Juni-08)-
————————————————————————————-
Surat dari ibu
Karya Asrul Sani
Pergi ke dunia luas anakku sayang
Pergi ke hidup bebas
Selama angin masih angin guritan
dan matahari pagi menyinari daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau
Pergi ke laut lepas anakku sayang
Pergi ke alam bebas
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau
Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nahkoda sudah tahu pedoman,
boleh engkau datang padaku
————————————————————————————-
“Aku Ingin”
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Sapardi Djoko Damono, 1989)
————————————————————————————
“Hujan Bulan Juni”
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(Sapardi Djoko Damono)
————————————————————————————
lihatlah sekitar
teman..apa yang kita lakukan pada bumi ini?
kita kotori tanah tempat kita berpijak
kita cemari air sumber kehidupan kita
kita buang gas-gas beracun ke udara yang kita hirup
bumi ini menangis teman..
kawan..lihat apa yang kita perbuat pada planet tempat kita bernaung ini?
tanah-tanah tak lagi sesubur aslinya
sungai-sungai tak lagi jernih seperti asalnya
bahkan udara pun tak lagi sebersih yang Tuhan berikan
kita merusak planet ini kawan..
sahabat..alam ini bukan hanya ada untuk saat ini saja
alam ini diwariskan pada kita..
dan kelak akan kita wariskan pula..
alam butuh keseimbangan..
dan kita adalah salah satu penjaganya..
lihatlah bila pohon kita tebang maka esok kan ada longsor dan banjir
alam telah mengajarkan kita banyak hal
untuk menghargai dan menjaga apa yang kita miliki
karena jika tidak..maka kitalah yang merugi..
-Saesa (Juni-08)-
————————————————————————————
satu kesempatan dari Tuhan
tak pernah ku tahu tentang keluh kesahmu
tak pernah ku dengar cerita-cerita bahagiamu
hanya sesekali tawa itu muncul
tapi kalimat-kalimat bernada perhatianmu selalu menenangkanku..ayah
kau kenalkan aku pada huruf dan angka
kau marahi aku kala aku tak berusaha keras dalam semua hal
namun kau pun memanjakanku dengan berbagai cara..ibu
aku hanya mengenalmu sekejap saja
walaupun kau hal terbaik yang pernah ada namun aku tak pernah cemburu padamu
karena kau adalah dambaan kami semua..adik
usia kita terpaut begitu jauh hingga kadang aku tak mengerti jalan pikirmu
aku sering merajuk padamu..merengek meminta sesuatu
tak jarang pula kita bertengkar hingga aku menangis tersedu-sedu
tapi aku tahu kau sayang padaku..
kau kerap hadir di mimpiku dan kita berbicara dalam damai..
aku begitu merindukanmu..kakak
kalian adalah anugerah terbesar dari Tuhan untukku
mengenal kalian adalah kenangan terindah yang Tuhan ijinkan untuk aku
menjadi bagian dari kalian adalah satu kesempatan yang Tuhan beri untuk jadikanku manusia yang sejati
yang pernah memiliki..yang pernah kehilangan..yang membuatku melangkah terus walau kadang terseok..
kita adalah satu keluarga utuh..dan aku takkan melupakannya
-Saesa (Juni-08)-
————————————————————————————
Cukup Engkau yang Menemaniku
“cari cinta itu teman”..itu ucapmu
“namun jangan sampai ia melenakanmu”..pesanmu cemas
“biarkan cinta membawamu terbang..mengarungi dunia..” ujarmu
“namun kendalikan ia..agar jangan membawamu terlalu tinggi..
karena bila ia menghempaskanmu..kau akan teramat sakit..”nasihatmu bijak
kau ada disisiku ketika aku menemukan cinta itu
kau tersenyum bahagia..seakan kaulah yang menemukan anugerah itu
dan kau masih di sampingku ketika aku terseok seok karena cinta meninggalkanku
engkau memapahku menapaki jalan sakit hati itu..jalan yang kubenci
kau bilang..”beruntunglah kamu kawan karena masih bisa merasakan sakit..
bukankah tanpa sakit takkan ada senang?”
aku masih ingin mencari cinta itu sobat..seperti yang engkau dengungkan
namun aku lelah…aku hanya ingin bersandar padamu..
aku tak perduli bila nanti tak kutemukan juga cinta itu
asal ada engkau..temanku..aku sudah merasa senang..
tak perlu ku susah payah mencari cinta..
cukup engkau yang menemaniku..
karena aku tahu..itu saja sudah teramat cukup bagiku
-Saesa (Agustus-08)-
————————————————————————————-
Patah Hati
kudengar suara debur ombak di kejauhan
kutatap sang raja siang yang beranjak tenggelam di horizon sana
kurasa angin kencang menerpa badanku
kuhirup udara panas sore itu…dan terbayang wajah kelammu
karena aku sedang berdiri di tepian tebing ini, kasih
menggali kenanganku bersamamu
percakapan dan tawa kala kita senang
kebisuan dan pertengkaran kala api amarah meluap
tak ada dalam khayalan kalau semua itu akan berakhir
tak terlintas bahwa kau ‘kan remukkan perasaan ini
apakah cinta telah membutakan jiwa ini?
apakah hati ini telah tertutup oleh semua kharismamu?
kau tak beri alasan
dan aku pun tak pernah bertanya kenapa
kau hanya berucap dan aku hanya bisa tersenyum miris
aku takkan menuntut kejelasan..karena aku bukan kekasihmu lagi
dan aku sudah tak mengerti dirimu…dan aku takkan mencoba tuk pahami
sore makin menjelang..angin malam hampir terasa
namun belum kutemukan jawaban itu..cara untuk melupakanmu
haruskah ku lompat dari tebing curam ini
menghampiri lautan biru yang tampak damai
atau mestikah aku berpaling dari tempat ini..tuk kembali esok
dengan pertanyaan yang sama..tanpa tahu apakah ada jawaban untukku
kututup kedua mataku..kuhirup udara dingin sore itu..
air menderu-deru..terus memanggilku..
kulangkahkan kaki ke udara..
tubuhku melayang..lalu menyentuh air…
kurasa dingin…gelap..dan aku terlelap..
dalam tidur panjangku
-Saesa (Agustus-08)-
————————————————————————————-
1 Komentar »
Tinggalkan komentar
-
Terkini
-
Taut
-
Arsip
- Februari 2009 (1)
- November 2008 (1)
- Oktober 2008 (4)
- September 2008 (8)
- Agustus 2008 (7)
- Juli 2008 (10)
- Juni 2008 (12)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
[...] puisi-puisi [...]
Ping balik oleh great day? not really.. « Saesa’s Weblog | Juni 10, 2008